Di DAOP 5 Purwokerto Ada 107 titik Perlintasan KA Yang Tidak Dijaga

Keterangan foto: Salah satu perlintasan kereta api di Purwokerto. (Dok. foto: RRI).

Purwokerto, Beritaterbit.com – PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menilai bahwa keselamatan di perlintasan kereta api atau perlintasan sebidang adalah tanggung jawab bersama, dimana pemerintah, operator, dan pengguna jalan memiliki perannya masing-masing yang sama pentingnya.

Manager Humas PT KAI DAOP 5 Purwokerto, Supriyanto mengutip pernyataan VP Public Relations KAI Joni Martinus mengatakan bahwa pihaknya sangat mengharapkan dukungan dari semua pihak agar keselamatan di perlintasan sebidang kereta api dapat tercipta. Seperti dikutip dari RRI.go.id, Senin (12/10/2020).

Supriyanto menyampaikan bahwa terdapat 3 unsur untuk menjamin keselamatan di perlintasan kereta api sebidang yaitu dari sisi infrastruktur, penegakan hukum, dan budaya.

Di sisi infrastruktur, evaluasi perlintasan sebidang harus dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan KAI dan pihak terkait lainnya secara berkala. Berdasarkan hasil evaluasi tesebut, perlintasan sebidang dapat dibuat tidak sebidang, ditutup, ataupun ditingkatkan keselamatannya.

Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang antara Jalur Kereta Api dengan Jalan pasal 5 dan 6.
“Perlintasan sebidang seharusnya dibuat tidak sebidang yaitu menjadi flyover dan underpass untuk meningkatkan keselamatan perjalanan KA dan pengguna jalan”, kata Supriyanto.

Supriyanto menambahkan bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan menutup perlintasan sebidang yang tidak berizin atau liar dan yang terakhir adalah dengan pemasangan peralatan keselamatan perlintasan sebidang yang disertai dengan pemasangan perlengkapan jalan.

Supriyanto menerangkan bahwa peningkatan dan pengelolaan perlintasan sebidang tersebut dilakukan oleh penanggung jawab jalan sesuai klasifikasinya seperti Menteri untuk jalan nasional, Gubernur untuk jalan provinsi, dan Bupati/Walikota untuk jalan kabupaten/kota dan jalan desa. Hal ini sesuai dengan PM Perhubungan No 94 Tahun 2018 pasal 2 dan 37.

“Sampai saat ini KAI mencatat terdapat 3.124 perlintasan sebidang resmi dan 1.556 perlintasan tidak resmi atau liar. Pada 2020, sampai awal Oktober, KAI sudah menutup 124 perlintasan sebidang liar dengan tujuan untuk normalisasi jalur KA dan peningkatan keselamatan perjalanan KA”, papar Supriyanto.

Supriyanto mengungkapkan bahwa total perlintasan yang ada di DAOP 5 Purwokerto yaitu sebanyak 208 titik. Yang di jaga pihak KAI ada 62 lokasi, dijaga Pemda ada 39 lokasi dan yang tidak di jaga ada 107 lokasi.

“Dari 107 perlintasan 91 yg resmi tercatat, 16 ilegal darin 16 yang ilegal terinci 9 ada di Cilacap, Brebes 3 , Tegal dua dan Purworeji satu titik dan Tegal 2 titik, Purworejo satu dan Banyumas satu titik. Rincianya perlintasan tidak terjaga di kabupaten Banyumas 12 lokasi, Brebes 3 lokasi, Ciamis dua lokasi, Cilacap 45 lokasi, Kebumen 16 lokasi Purworejo 7 dan 22 titik di Kabupaten Tegal, ungkap Supriyanto.

“KAI bersama pemerintah terus bersinergi untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang melalui berbagai upaya,” kata Supriyanto

Sementara di sisi penegakan hukum, dibutuhkan penindakan bagi setiap pelanggar agar menimbulkan efek jera dan meningkatkan kedisiplinan para pengguna jalan. KAI rutin menjalin komunikasi dengan kepolisian setempat agar penegakan hukum diterapkan secara konsisten.

Adapun di sisi budaya, perlu ada kesadaran dari setiap pengguna jalan untuk mematuhi seluruh rambu-rambu dan isyarat yang ada saat melalui perlintasan sebidang. Hal ini dikarenakan keselamatan di perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab setiap individu.

Di tahun 2020, KAI sudah melakukan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang sebanyak 33 kali di berbagai wilayah yang dinilai rawan pelanggaran. KAI bersama-sama Komunitas Pecinta Kereta Api melakukan edukasi kepada masyarakat untuk membangun budaya disiplin di perlintasan sebidang dan mematuhi rambu-rambu yang ada.

“Keselamatan di perlintasan sebidang dapat tercipta jika seluruh unsur masyarakat dan pemerintah dapat bersama-sama peduli. Diharapkan kepedulian seluruh stakeholder termasuk para pengguna jalan, mampu menciptakan keselamatan di perlintasan sebidang,” tutup Supriyanto. (Purnomo).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.