Browsing Kategori: "cerpen"

cerpen

Balik Ke Bengkulu

Cerpen: Benny Hakim Benardie Aroma amis ikan terasa  menyengat,  saat kereta angin  mendorat melintas  daerah Kota Tua Pasar (Marga) Bengkulu nangterlenakan. Deburan ombak dan teriakan  penarik pukat , masih terngiang di benakku.  “tu duo  tigo...Bottooi. satu duo tigo....Bottoi”, aba-aba saat pukat ditarik, berharap jaring terisi penuh dengan ikan. Itu  kenangan di Kota Bengkulu 40  tahun yang lalu.  Saat bangunan, monumen peninggalan koloni masih banyak,  ada tegak kokoh berdiri. Itu saat anak negeri belum perduli…

Menangiskah Gadis Bengkulu di Eropa

Cerpen: Benny Hakim Benardie “Tidurlah Amna, Dang lagi buat pekerjaan kantor. Kamu jangan ke luar pintu, nanti diganggu polisi Inggris yang lagi menggila. Mana Encik Naurinnah kau sama Donga Radja Gendam?” Angin senai-senai berhembus lembut dari balik gemerisik pohon bambu di Negeri Mati, sebutan lain Negeri Bengkulu di 190 Tahun nanlalu. Negeri ini terus menjadi lirikan para pengarung lautan saat melintas di perairannya. Hasil bumi dan keramahan penduduknya menjadi kerinduan tersendiri tanpa pilihan lain. Tuangku Radja…

Khayal Sang Cawara

Cerpen: Benny Hakim Benardie “Jangan kau bangunkan Cawara  yang sedang dilanda khayal. Biarkan dia larut dalam khayal indah, agar tak menangis saat menghadapi fakta yang ternyata mengerikan”. Tiga orang Calon Wakil Rakyat (Cawara) mirip Calon legislatif (Caleg) ini berlainan rumah dan desa, tampak tergadah menatap bubungan rumah. Diujung desa,  seorang pria tersenyum tersipu-sipu diruang tamu rumah. Sesekali terdengar kata “Nah....Naaah meleset, meleset”. Di desa sebelah, ada perempuan mengangguk-anggukan kepalanya…

Raun ke Bencoolen Singapura

Cerpen: Benny Hakim Benardie Pekikan pengadu burung dara kian mengusik tidur siangku. Belum lagi suara pukulan kentongan petanda burung sudah mendarat, membuat aku memaksa diri untuk menuju MCK Umum yang tampak antrian pemgantri. “Siang yang membuat pikiran bertambah kalut aja. Oh iya…..Inikan hari Minggu! Pantas aja itu orang pada rame main burung”,  gerutu ku, Hari ini di Matraman Jakarta Timur. tumbenan tidak lagi turun hujan. Tapi ini merupakan salah satu kecamatan zona aman dari banjir.  Hanya saja…

Cerpen: Rumah Bengkulu

Oleh: Benny Hakim Benardie Sewindu sudah negeri ini tak ramai lagi oleh suara berisik   rintikan hujan, geruduk petir, pekikkan gaduh orang berteriak minta keadilan. Rumah diujung barat semenanjung itu tetap tegak berdiri. Meski sesekali tedengar berderit kayu bergesek, membuat gigi geraham ngilu. Itulah  Rumah Bengkulu yang dihuni  sepuluh orang yang tiap hari beraktifitas. Ironis dan pilu Addien, seorang pemuda yang pernah tinggal di Rumah Bengkulu, beberapa puluh tahun silam.  Dari atas bukit di pinggiran  negeri,…

Tekijang

Cerpen Benny Hakim Benardie “Masih Kecik Kudo Tembago. La Gedang Kudo Tambangan. Masih Kecik Bemain Cinto, La Gedang Bae Tunangan”.  Kisahko terjadi la lamo nian. Seidak-idaknyo terjadi Tahun 2018, di sebuah rumah kecik idak bepagar, nangkeluarganyo hidup diasingkan masyarakat. Hidup idak diapikan orang, ditambah lagi rumah kecik idak bepagar, rumah gedang idak bepagu. Masih kecik idak belajar, la gedang idak pulo beguru. ‘Makan kuah’ tulah penyelesaiannyo. Yo dapek kuah sup, kalu dapek kuah masak asam kacang merah?…

Bukit Tapak Paderi Sepenggal Kenangan

“Tak tahu dan diam itu wajar. Bila tahu tapi diam itu, itulah  kezaliman” Oleh: Benny Hakim Benardie Di era tahun 70 hingga 80-an,  usai shalat subuh, tampak bujang gadis  dan anak-anak di Kota Bengkulu, berduyun-duyun menghirup sejuknya fajar menuju Bukit Tapak Paderi.  Ditengah jalan, tampak garisan kapur tulis berbentu kotak, untuk remaja bermain “calabur”. Suatru permainan rakyat yang kini punah dihantam ego generasi taklid. Berjalan melingkar dibawah Bukit Tapak Paderi, titik nol Negeri Bengkulu. Bujang gadis dan…

Ta’un Sang Caleg

Cerpen: Benny Hakim Benardie Pagi itu Juli 2018, Negeri Bencoolen terasa panas sedari fajar. Entah apa sebabnya, sebulan terakhir cuaca terasa lengket dikulit.  Munkin inilah salah satunya kata pepatah orang tua melayu dahulu, “Panas Tak Berarti  Akan Turun Hujan” . “Tapi itu,  ah......sudahlah! kenapa mesti dipikirkan  soal hujan ataupun panas.  Momentum empuk  yang penting harus diraih”,  kata  Ta’un dalam hati, sembari merapikan dandanannya agar necis ghitu loh. Sementara bini Ta’un, Upik Jenggo  sedang sibuk…

Dunia Sehektar di Negeri Marlborough

Cerpen: Benny Hakim Benardie “ Gunung Yang Engkau Lihat Indah, Sesungguhnya  Tak Seindah Apa Yang Engkau LIhat “ Ceritera ini berawal dari sebuah desa kecil di North Bencoolen, Syamsul kecil tumbuh dan berkembang, seiring tumbang tumbuhnya tanaman hutan disekeliling desa.  Gaung  adzan terus bergema mengalun di ruang rumah orang tua Syamsul. Aura agamis selalu terasa menenangkan hati siapa saja nangundah gulana, meskipun desa tak berapa jauh dari pesisir pantai. Ketaatan dan prestasi membuat partai politik berbasis…

Torehan Pena Emak

Cerpen:  Benny Hakim Benardie Kata kunci hidup itu bergerak. Meskipun kita tidak bergerak, kehidupan  akan bergerak dengan sendirinya.  Konsekuensinya, tiada ada yang kebetulan di buka bumi ini. Semuanya kejadian  sudah merupakan ketentuan dari Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin itulah yang namanya takdir. Ketentuan hanya dapat ditolak dengan doa yang sunguh-sunguh. Secarik kertas yang belum usai ditulis terselip di sela-sela baju usang yang tak terpakai. Entah kapan tulisan bermula, yang mencoba menguak  kehidupan Emak,…