Profesional dalam Pemberitaan

Girik Cik: Ganti Nama Pulau Tikus, Lukai Perasaan Anak Negeri

By: Cik Ben

Rencana  Walikota Bengkulu Helmi Hasan, tahun 2019 akan menganti nama Pulau Tikus, menjadi Pulau Harapan dan Doa, disingkat HD, akan lukai perasaan anak Negeri Bengkulu. Pulau Tikus yang dalam peta abad 14 Masehi tertera namanya, banyak menyimpan story dan history.

Pada abad 17 Masehi, para Tentara Inggris sempat menjadikan Pulau Tikus sebagai garda untuk memantau alur maritim yang coba mendarat di Kota Benkoelen. Dalam catatan Belanda Tahun 1880 juga di sebutkan  ada empat pulau yang dimiliki daerah kekuasaanya. “Pulau Engano, pulau-pulau kecil Poella Tikoes yang berada tepat di bawah pantai, terletak di depan kota utama Benkoelen, Poeloe Pisang dan Betuwah sebelum Pantai Kroë”.

Ini sedikit mengingat ulang kenangan Pulau Tikus dimasa lampau. Pulau penuh kenangan, dimana dulunya sekitar tahun 70-an,  terdapat beberapa makam dan beberapa sisa peninggalan kolonial yang kini tinggal kenangan. Apakah kini kita akan hilangkan juga nama Pulau Tikus itu, dan di ganti namanya yang menurut Cik tak penting, dan prinsip buanget ghitu loh. Bila mau juga Pulau tikus diganti nama biar ngetop di manca negara, baiknya mengunakan nama negara saja, Seperti Pulau India atau Pulau Pakistan, kan lebih populer.

“Tapikan nggak salah Cik, kalau Wali Kota Helmi Hasan mau ganti namo Pulau Tikus itu jadi Pulau HD, Island HD?” Tanya Aban Albana, seorang pria yang entah dari mana asalnya.

Mendengar ada yang motong pembicaraan, Cik Ben naik alisnya. “MCKLDI pertanyaan kau tu ndan. Memang idak salah. Kalau salah pasti tangkok plisi. Cuman sebagai anak negeri yang berakal dan idak buto, sayo raso menganti namo itu keliru. Kalu itu keliru, orang lain jugo pacak keliru”, tegur Cik membuek tediam lanang MCKLDI tu.

Dari dulu, paling tidak 47 tahun lalu, pulau tikus itu memang obyek wisata andalan anak negeri. Mulai mengunakan perahu cadik sampai mengunakan kapal motor seperti saat ini.  Kami dulu jelas Cik Ben, ke Pulau Tikus itu mancing ikan, melihat terumbu karang. Pokoknya berwisata ria dan sejarah.

“Apalagi mau reklamasi Pulau Tikus dengan dana Rp 7 Milyar, rasanya akan merugikan keuangan negara saja. Merusak, menimbun  terumbu karang yang ada. Akan merusak dan mengusir habitat penyu, lobster dan lainnya”, Cik Ben ngedumel.

“Ah nyinyir nih Cik. Kalau untuk sarana pernikahan bagus Cik?” celetuk seorang Anak Zaman Now.

“Apo nak? Kalu kekiro belum ngopi, pailah ngopi dulu, biar tejegil incek mato tu. Endak pesta perkawinan di Pulau Tikus itu memang antik dan unik. Berfikirkah kita, kalau angin di tengah lau itu kencang. Agon yang ada bukan saja angin tengara, tapi angin barat kencang berhembus. Pelajari dan pikir”, bentak Cik esmosi.

Cik usul. Baiknyo jangan ganti namo Pulau Tikus itu. Jangan pulo endak buek pesta kawinan itu tengah laut tu. Apo lagi endak buek penginapan. Dana Rp 7 Milyar itu baiknya untuk galakkan lagi Bansos, Samisake atau semiliar sekelurahan.

“Apolagi Anggota DPRD Kota belun dikoordinasikan, dan tak tahu rencana ini”.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.